Kamis, 09 Desember 2010

Bunga Anthurium Untuk Keindahan, Kepuasan dan Menghasilkan

Udara sejuk dan menyegarkan bisa dirasakan, bagi pendatang ketika memasuki wilayah pemukiman Kampung Sariagung Kelurahan Jaraksari Wonosobo. Pemandangan alam pegunungan (Gungung Sindoro-Sumbing) dilengkapi sungai yang tak pernah kering serta persawahan yang hijau, melengkapi suasana kedamaian penghuninya. Meski berada di kawasan perkotaan, dengan batas sebelah utara Jalan S Parman (pintu masuk Kota Wonosobo dari arah timur); barat Jalan K Muntang; selatan makam Muntang/persawahan, sebelah timur Sungai Semagung, Kampung Sariagung terlihat nyaman dan asri. Perumahan warga tertata rapi dengan jalan setapak berupa beton dan paving. Pemandangan semakin indah dan menarik karena seluruh penghuninya memanfaatkan halaman serta tanah pekarangan mereka dengan aneka bunga maupun tanaman hias. Sebagian diantaranya membudidayakan tanaman bunga anthurium.

Kepala Kelurahan Jaraksari, Iswadi (55 tahun) yang ditemui Suara Merdeka, kemarin, menyebut bahwa sejak lama di sejumlah kampung di wilayahnya, sebagian penduduk peduli keindahan. Sehubungan dengan itu, walau tanah pekarangan tidak luas, mereka manfaatkan untuk budi daya tanaman hias maupun bunga. Sejumlah warga menanam dalam pot. Adapun pemukiman penduduk di wilayahnya yang mengembangkan tanaman bunga dan tanaman hias, meliputi Kampung Sariagung; Sruni; Asri Mulyo serta Kampung Jaraksari. Guna memperkuat jaringan pemasaran, ada diantara mereka sudah membentuk paguyuban atau kelompok tani bunga. Melalui wadah kelompok tani, anggota bisa membudidayakannya secara optimal. Selain itu, dengan merebaknya warga yang membudidayakan tanaman bunga, maka komoditas tersebut relatif aman dan tidak rusak.
Iswadi yang juga atlet silat, mengaku mulai tertarik dan menekuni tanaman bunga anthurium, sekitar tiga tahun silam. Karena hobi, maka waktu luang atau libur banyak dicurahkan bagi pengembangan tanamannya. Ia yang menjadi ketua kelompok tani Bunga Seruni menyebut, berbekal bantuan bibit bunga anthurium sebanyak 100 pohon, ditunjang 400 batang yang diusahakan pribadi, kini tanamannya sudah berkembang menjadi 1.500an batang di atas areal tanah miliknya seluas 2.500 metyer persegi. Pria berpostur tinggi besar itu pun berobsesi untuk melakukan ekspansi dengan menambah areal penanaman. Berkait dengan itu, ia tak segan-segan mengganti tanaman salaknya dengan komoditas bunga anthurium.

Menurut Iswadi, mengolah tanaman bunga anthurium tidaklah terlalu sulit. Hama maupun ulat pengganggu, bisa diatasi dengan obat-obatan tanaman. Kendala petani, biasanya pada permodalan. Karena harga bibit pohon bunga anthurium berkisar Rp 20.000 sampai Rp 35.000/batang. Tergantung pada jenisnya. Selain segi keindahan, lanjut Ketua kelompok tani Bunga Seruni, ternyata tanaman ini pun mampu memberikan hasil tambahan yang cukup menjanjikan. Saat ini, produksi dari kebunnya berkisar 300 batang bunga anthurium. Tengkulak atau pedagang pengepul mematok harga di tingkat petani mencapai Rp 2.500 sampai Rp 4.000/bunga. Harga ditentukan oleh ukuran serta jenis bunga.

Mengenai harga bibit maupun bunga anthurium, ia menjelaskan bahwa semakin langka suatu bibit maupun jenis dan ukuran, maka komoditas tersebut, relatif lebih mahal. Untuk saat ini, jenis anthurium midori (bunga berwarna hijau) maupun trophic night (berwarna gelap kehitaman), harganya masih yang tertinggi. Disinggung koleksi tanaman anthurium yang dikembangkan, pria berkumis tebal ini mengatakan, yaitu jenis presiden; fantasia; fire; rosa; trophical; midori; trophic night; simba dan biroen. Kegiatan sampingan yang ditekuni bersama anak dan istrinya, diakui untuk persiapan hari tua selepas pensiun sebagai PNS. Menyadari komoditas ini mampu memberi hasil yang lumayan, maka sebagai kepala kelurahan, ia acapkali mensosialisasikan dan mengajak masyarakatnya untuk gemar menanam bunga. Selain menunjang keindahan dan kebersihan lingkungan, maka kesejukan bunga akan membangkitkan kenyamanan penghuninya.

Pak Is -sapaan akrabnya, menyebut pemasaran bunga potong, khususnya anthurium, sampai sekarang masih terbuka luas. Tidak ada hambatan untuk memasarkan produk. Karena secara berkala atau tiap dua pekan, pembeli atau pengepul mendatangi mereka. Bahkan produk bunga potong ini masih sangat kurang dan belum mampu memenuhi permintaan pasar. Sehingga para petani bunga diharapkan bisa menambah luas arealnya. Senada dengan Iswadi, Ketua kelompok tani Sekarsari, Kampung Sariagung Jaraksari, Widiyatmo yang ditemui secara terpisah, membenarkan bahwa pemasaran produk bunga potong anthurium, sekarang ini cukup lancar. Petani tak perlu memasarkan sendiri kepada konsumen. Selain pedagang pengepul, konsumen lokal juga sering memesan untuk suatu keperluan acara pernikahan dan sebagainya.
Widiyatmo yang pensiun dari BRI tahun 2007, mengatakan produk bunga potong anthurium, oleh pedagang pengepul dipasarkan atau disetor ke Semarang serta Jakarta. Iswadi menambahkan, bunga potong tersebut juga dipasarkan di Yogyakarta, Temanggung, Purwokerto maupun Bandungan. Dua orang ketua kelompok tani bunga tersebut mengaku bahwa membudidayakan tanaman bunga, selain memberikan kepuasan tersendiri dan menyalurkan hobi, juga mewujudkan lingkungan yang indah dan menunjang kepariwisataan dan kota bunga. Penyaluran hobi dan kepuasan itu pun mampu memberikan nilai tambah, berupa hasil sampingan yang menjanjikan.(Sudarman)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar